Tafsir Al-Baqarah 2:1

Ayat

المٓ


Maksud Ayat

Alif, Lām, Mīm.
(Huruf-huruf terputus; maknanya hanya diketahui oleh Allah)


🧭 Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir

1️⃣ Makna Huruf Muqaṭṭa‘āt (Alif Lām Mīm)

Ibnu Katsir menjelaskan bahawa “Alif Lām Mīm” tergolong dalam huruf-huruf muqaṭṭa‘āt, iaitu huruf-huruf terputus yang muncul di permulaan beberapa surah al-Quran. Makna hakikinya tidak diketahui secara pasti oleh manusia, dan Allah lebih mengetahui maksud sebenar huruf-huruf ini.

Namun begitu, para sahabat dan ulama salaf bersepakat bahawa huruf-huruf ini bukan sia-sia, bahkan mengandungi hikmah dan rahsia yang besar.


2️⃣ Hikmah Diturunkan Huruf Muqaṭṭa‘āt

Menurut Ibnu Katsir, antara hikmah utama huruf-huruf ini ialah:

  • Menunjukkan bahawa al-Quran disusun daripada huruf-huruf Arab yang biasa digunakan manusia

  • Namun manusia tetap tidak mampu menandingi keindahan, keagungan dan mukjizat al-Quran

  • Ia menjadi cabaran terbuka kepada orang Arab yang fasih bahasanya, tetapi tetap gagal menghasilkan yang seumpamanya


3️⃣ Hubungan Dengan Mukjizat al-Quran

Ibnu Katsir menyebut bahawa kebanyakan surah yang bermula dengan huruf muqaṭṭa‘āt akan diikuti dengan penegasan tentang al-Quran, sama ada:

  • kebenaran wahyu,

  • keagungan kitab,

  • atau cabaran kepada manusia untuk menandinginya.

Ini menunjukkan bahawa huruf-huruf ini berkait rapat dengan kemukjizatan al-Quran.


4️⃣ Sikap Seorang Mukmin

Ibnu Katsir menegaskan bahawa sikap yang benar terhadap ayat seperti ini ialah:

  • beriman tanpa ragu,

  • menerima bahawa ada perkara yang melampaui akal manusia,

  • menyerahkan ilmu hakikinya kepada Allah tanpa menolak atau memperolok-olokkan.


5️⃣ Pengajaran Utama

Ayat ini mendidik manusia supaya:

  • merendahkan diri di hadapan ilmu Allah,

  • meyakini bahawa al-Quran adalah mukjizat,

  • memahami bahawa tidak semua perkara perlu diketahui secara terperinci untuk beriman.


Rumusan Tafsir 2:1

Huruf “Alif Lām Mīm” merupakan tanda kebesaran dan rahsia Allah dalam al-Quran. Ia mengingatkan manusia bahawa al-Quran adalah wahyu Ilahi yang tidak mampu ditandingi, serta mengajar orang beriman untuk tunduk dan percaya walaupun terhadap perkara yang tidak difahami sepenuhnya.

HURAIAN

Para ulama tafsir berselisih pendapat sehubungan dengan huruf-huruf yang mengawali banyak surat Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hal ini merupakan sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah S.W.T saja, maka untuk mengetahui maknanya mereka mengembalikannya kepada Allah S.W.T dan tidak berani menafsirkannya.

Demikianlah menurut riwayat Al-Qurtubi di dalam kitab Tafsirnya melalui Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan Ibnu Mas’ud, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka. Hal yang sama dikatakan pula oleh Amir Asy-Sya’bi, Sufyan As-Sauri, dan Ar-Rabi’ ibnu Khaisam, dan dipilih oleh Abu Hatim dan Ibnu Hibban.

Di antara mereka ada yang menafsirkan, dan mereka berselisih pendapat mengenai maknanya. Menurut Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, sesungguhnya huruf-huruf tersebut merupakan nama-nama surat yang bersangkutan. Abul Qasim Mahmud ibnu Umar Az-Zamakhsyari di dalam kitab Tafsirnya -yang kemudian diikuti oleh kebanyakan ulama-mengatakan hal yang sama.

Telah dinukil dari Imam Sibawaih bahwa dia mengatakan hal yang serupa dan ia memperkuat pendapatnya itu dengan hadis yang disebut di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah R.A bahwa Rasulullah S.A.W membaca surah Alif lam mim sajdah dan Hal ata ‘alal insani dalam salat Subuh hari Jumat.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Alif lam mim, Ha mim, Alif lam mim shad, dan Shad merupakan pembuka-pembuka surat yang diberlakukan oleh-Nya dalam Al-Qur’an. Hal yang sama dikatakan pula oleh selainnya, dari Mujahid.

Mujahid -menurut riwayat Abu Huzaifah Musa ibnu Mas’ud, dari Syibl, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid sendiri-mengatakan bahwa Alif lam mim merupakan salah satu asma Al-Qur’an. Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah dan Zaid ibnu Aslam. Barangkali pendapat ini merujuk kepada pendapat Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam dalam hal makna, yaitu bahwa nama tersebut merupakan salah satu nama surat yang bersangkutan; karena sesungguhnya setiap surat dinamakan “Al-Qur’an”. Tetapi tidak masuk akal bila Alif lam mim sad -misalnya-dianggap sebagai nama Al-Qur’an seluruhnya, karena sesungguhnya pengertian yang sampai terlebih dahulu ke dalam pemahaman seseorang yang mendengar orang lain mengatakan, “Aku telah membaca Alif lam mim sad,” ialah bahwa orang tersebut telah membaca surat Al-A’raf, bukan Al-Qur’an seluruhnya.

Menurut suatu pendapat, huruf-huruf tersebut merupakan salah satu nama Allah S.W.T.

Asy-Sya’bi mengatakan, fawatihus suwar adalah asma-asma Allah. Hal yang sama dikatakan pula oleh Salim ibnu Abdullah dan Ismail ibnu Abdur Rahman As-Saddiyyul Kabir.

Syu’bah mengatakan dari As-Saddi telah sampai kepadanya suatu berita bahwa Ibnu Abbas mengatakan, “Alif lam mim merupakan salah satu asma Allah Yang Teragung.” Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Syu’bah.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Syu’bah yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada As-Saddi mengenai Hamim ta sin dan Alif lam mim. Ia menjawab bahwa Ibnu Abbas R.A pernah mengatakan, “Hal itu merupakan salah satu asma Allah yang Teragung.” Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ismail As-Saddi, dari Murrah Al-Hamadani yang mengatakan bahwa Abdullah pernah mengatakan hal yang serupa. Hal yang sama diriwayatkan pula dari Ali dan Ibnu Abbas.

Ali ibnu Abu Talhah mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa hal itu merupakan qasam (sumpah) yang dipakai oleh Allah dalam sumpah-Nya karena merupakan salah satu dari asma-asma-Nya. Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan melalui hadis Ibnu Ulayyah, dari Khalid Al-Hazza, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Alif lam mim merupakan qasam (sumpah). Keduanya meriwayatkan pula melalui hadis Syarik ibnu Abdullah, dari Ata ibnus Sa’ib, dari Abud Duha, dari ibnu Abbas, bahwa makna Alif lam mim ialah Anallāhu ‘alam (Aku Allah Yang Maha Mengetahui). Hal yang sama dikatakan pula oleh Sa’id ibnu Jabir, dan As-Saddi mengatakannya dari Abu Malik.

Abu Saleh meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan Murrah Al-Hamadani meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan dari sejumlah orang-orang dari kalangan sahabat Nabi S.A.W, bahwa Alif lam mim merupakan huruf-huruf yang dipakai untuk pembukaan; semuanya berasal dari ejaan hijaiyyah asma-asma Allah.

Abu Ja’far Ar-Razi mengatakan dari Ar-Rabi’, dari Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman Allah S.W.T, Alif lam mim. Ketiga huruf ini merupakan bagian dari dua puluh sembilan huruf yang berlaku di kalangan semua bahasa. Tiada suatu huruf pun dari (ketiga)nya melainkan huruf tersebut adalah huruf pertama dari salah satu asma Allah S.W.T Tiada suatu huruf pun darinya melainkan merupakan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, dan tiada suatu huruf pun darinya melainkan di dalamnya terkandung masa hidup suatu kaum dan ajal mereka. Isa bin Maryam A.S mengatakan sebagai ungkapan dari keheranannya, “Aku heran, mereka mengucapkan asma-asma-Nya dan hidup dengan rezeki-Nya, tetapi mengapa mereka kafir terhadap-Nya?” Huruf alif merupakan huruf pertama dari asma Allah, huruf lam merupakan kunci asma-Nya Latif (Yang Mahalembut), dan huruf mim merupakan kunci dari asma-Nya Majid (Yang Mahaagung). Huruf alif adalah tanda-tanda kebesaran Allah, huruf lam adalah sifat Latif Allah, sedangkan huruf mim sifat Majdullah. Huruf alif menunjukkan masa satu tahun, huruf lam menunjukkan masa tiga puluh tahun, dan huruf mim menunjukkan empat puluh tahun. (Ini adalah lafaz Ibnu Abu Hatim).

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, kemudian Ibnu Jarir mengarahkan pendapat-pendapat tersebut dan menyelaraskan di antara sesamanya, akhirnya dia sampai pada suatu kesimpulan bahwa sebenarnya tidak ada pertentangan di antara satu pendapat dengan yang lainnya. Semua pendapat tersebut dapat digabungkan dalam suatu kesimpulan, yaitu “huruf-huruf tersebut merupakan nama surat-surat, nama asma-asma-Nya, dan pendahuluan surat-surat”. Setiap huruf menunjukkan suatu asma atau suatu sifat Allah S.W.T, sebagaimana membuka banyak surat dalam Al-Qur’an dengan memuji, bertasbih, dan mengagungkan nama-Nya. Ibnu Jarir melanjutkan, bahwa tidak menutup kemungkinan bilamana sebagian dari huruf-huruf itu menunjukkan salah satu dari asma-asma Allah dan salah satu dari sifat-sifat-Nya; juga menunjukkan suatu masa atau lain sebagainya, sebagaimana yang disebut oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dari Abul Aliyah. Dikatakan demikian karena satu kalimat diucapkan untuk menunjukkan banyak makna, contohnya lafaz AL-UMMAH. Lafaz AL-UMMAH adakalanya bermakna agama, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ

Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, (Az-Zukhruf, [43:22])

Adakalanya diucapkan untuk menunjukkan makna “jamaah”, seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًا

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. (An-Nahl, [16:120])

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap- tiap umat. (An-Nahl, [16:36])

Adakalanya untuk menunjukkan makna “suatu waktu dari suatu masa”, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

وَقَالَ الَّذِيْ نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ اُمَّةٍ

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya. (Yusuf, [12:45])

Makna yang dimaksud ialah “sesudah lewat beberapa waktu”, menurut pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat.

Demikianlah kesimpulan pendapat Ibnu Jarir secara terarah, tetapi tidak seperti apa yang dikemukakan oleh Abul Aliyah, karena Abul Aliyah menduga bahwa huruf tersebut menunjukkan makna anu dan makna ini serta makna itu secara bersamaan. Sedangkan lafaz UMMAH dan yang sejenis dengannya (termasuk lafaz musytarakah dalam peristilahan) sesungguhnya menunjukkan kepada suatu makna dalam Al-Qur’an berdasarkan konteks sebelumnya. Jika mengartikannya menurut keseluruhan makna yang dikandungnya jika diperlukan, maka hal ini merupakan masalah yang masih diperselisihkan di kalangan para ulama usul, pembahasannya bukan termasuk ke dalam subyek dari kitab ini.

Selain itu menunjukkan masing-masing makna lafaz UMMAH dalam konteks kalimat dilakukan berdasarkan idiom. Penunjukan makna suatu huruf kepada suatu isim dapat pula diartikan menunjukkan makna isim yang lain dengan meniadakan keutamaan antara yang satu dengan yang lain dalam hal taqdir atau idmar, baik menurut idiom ataupun lainnya. Pengertian seperti ini tidak dapat dimengerti melainkan melalui tauqif (petunjuk dan syara’). Permasalahan huruf ini merupakan masalah yang diperselisihkan dan tiada suatu kesepakatan pun hingga dapat dijadikan sebagai ketentuan hukum.

Mengenai syawahid yang mereka kemukakan untuk memperkuat kebenaran pendapat yang mengatakan bahwa mengucapkan suatu huruf dapat diartikan sebagai petunjuk tentang huruf berikutnya dalam kalimat yang dimaksud, hal ini dapat dimengerti melalui konteks pembicaraan. Permasalahannya berbeda amat jauh dengan huruf-huruf yang mengawali surat-surat Al-Qur’an. Di antara yang mereka jadikan sebagai syahid ialah perkataan seorang penyair:

قُلْنَا قِفِي لَنَا فقالت قاف..لا تَحْسَبِي أنا نَسينا الْإِيجَافَ
Kami katakan, “Berhentilah kamu demi kami. Maka dia (seakan- akan) menjawab, “Aku berhenti.” Janganlah kamu menduga bahwa kami lupa untuk memacu(mu).

Makna yang dimaksud dari huruf QAF ialah waqaftu (aku berhenti). Demikian pula ucapan penyair lainnya, yaitu:

مَا لِلظَّلِيْمِ عَالَ كَيْفَ لَا يَا..ينقَدُّ عَنْهُ جِلْدُهٗ اِذَا يَا
Tiada kemenangan atas orang yang teraniaya, mengapa dia tidak berbuat; apabila dia berbuat, niscaya tubuhnya akan didera.

Ibnu Jarir mengatakan, seakan-akan penyair bermaksud mengatakan, “Idzā yaf’alu kadzā wa kadzā” (Bila dia melakukan anu dan anu). Maka dalam hal ini dia cukup hanya dengan menyebutkan ya dari lafaz yaf’alu.

Penyair lainnya mengatakan:

بِالْخَيْرِ خَيْرَاتٌ وَاِنْ شَرًّا فَا..وَلَا اُرِيْدُ الشَّرَّ اِلَّا اَنْ تَا
Perbuatan baik akan menghasilkan kebaikan; dan jika jahat, maka balasannya jahat pula; dan kejahatan itu tidakakan terjadi kecuali jika kamu menghendakinya.

Penyair mengatakan,

“Dan jika jahat, maka balasannya jahat pula. Kejahatan itu tidaklah dikehendaki kecuali jika kamu menghendakinya.”

Kedua lafaz tersebut cukup dimengerti hanya dengan menyebutkan huruf fa dan ta dari kedua kalimat tersebut. Hanya saja pengertian ini dapat diterka melalui konteks kalimat.

Al-Qurtubi mengatakan sehubungan dengan hadis yang mengatakan:

مَنْ اَعَانَ عَلٰى قَتْلِ مُسْلِمٍ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ

“Barang siapa yang ikut membantu membunuh seorang muslim dengan sepotong kalimat,” hingga akhir hadis. Menurut Sufyan, makna yang dimaksud ialah “bila seseorang mengatakan “uq” dengan maksud uqtul (bunuhlah dia)”.